Kemaren sehabis antar Papa ke Rumah Sakit dan Papa dinyatakan sehat, kami langsung berencana untuk celebration.
Sambil menunggu obat dan surat ijin Papa dibuat, kami berdiskusi dan sempat debat kusir seperti apa acara itu dikemas. Pilihan jatuh pada acara makan-makan berdua saja sepulang dari rumah sakit.
Aku ingin seporsi Bakso Bakar dengan Segelas Es PAsundan di Bambu Wulung. TApi, Papa menginginkan seporsi Iga Bakar.
Aku menolak pilihan Papa. Alasanku , letak Bakso searah dengan jalan yang kami lintasi jika melalui jalur dalam yang di lewati angkot warna kuning kehijauan jalur Landungsari-Dau-Batu. Sedang Iga bakar itu di kota MAlang di jalan ijen. LAgian, kami dari rumah sakit sudah jam 3an dan belum jembut Dede. Jam penitipannya kan berakhir pukul 15.30.
Keputusannya: Menu pembuka adalah bakso bakar, Menu inti Jemput Dede dan ditutup dengan Iga Bakar.
Motor melaju lambat (karena yang nyetir kan aku, Papa masih belum fit). Setelah keluar dari daerah Batu dan mulai memasuki kawasan kabupaten Malang sedikit berbelok, menikung dan menuruni turunan ekstrim bagi pemula akhirnya sampailah kami di Bambu Wulung.
Papa langsung memesan dua porsi bakso bakar saja sedangkan aku memesan seporsi bakso bakar ditambah tahu, siomay basah dan 1 gorengan. Untuk minumnya aku pesan Es PAsundan dan Papa secangkir kopi item.
Sambil menunggu pesanan datang, kami sengaja mengambil posisi duudk dekat jendela yang mengarah ke sawah. Pemandangan indah terhampar, udara sejuk nan segar berhembus dan celotehan hewan membuat kami betul - betul fresh dan menikmati selebrasi ini. Panorama alamnya tak kalah dengan Payung lho.
Puas, Mantap dan MAk nyuss.
Perut kamipun kewalahan menghabiskan begitu banyak pesanan kami. BAyangkan saja seporsi bakso bakar itu terdiri dari 5 buah bakso [pentol], kalau dua porsi berarti sepuluh untuk Papa. sedang buatku walau cuma seporsi yang berarti 5 buah pentol tapi aku kan nambah bakso campur yang ku sebut di atas.
Murah lho, seporsi bakso bakar cuma 6000 rupiah saja dan lain-lainnya aku gak tahu pokoknya untuk semua yang kami pesan menguras isi dompet sebesar 25.500 saja.
Acara jemput Dede tertunda karena Papa hunting jas hujan di dekat kampus. keliling-keliling lama eh gak ketemu yang dicari akhirnya balik lagi ke Sengkaling jemput Dede.
Terakhir kami pulang. lho kok sudah pulang???? Iya! kami akhirnya pulang karena selain masih kuenyanng poll juga gerimis. so, bertigaan di rumah deh.
see you
Jumat, 15 Oktober 2010
Senin, 11 Oktober 2010
HAri Keenam
Cemas dan gelisah.
Dua kata itu terus menggelayut di pikiranku.
BAgaimana tidak, Papa masih lemah.
walau makan dan minumnya banyak tapi demam belum turun dan masih pucat.
Dan masih banyak lagi ungkapan yang tidak bisa kutuliskan di sini.
YAng jelas efek omelan itu cukup membuatku gerah.
Bukan karena sakit papa tetapi lebih pada sikap dokter itu. sangat disayangkan tidak mampu menjaga perasaan pasien dan keluarga. Saya rasa ada intonasi dan pilihan kata lain yang lebih baik dalam menyampaikan keadaan paling buruk sekalipun kepada pasien.
Bisakah dokter itu berpikir terbalik seandainya dia pasien ??????????
Ya Allah aku hanya berharap Engkau akan selalu dan masih memberi kami semua panjang umur, kebahagiaan dan kesempatan yang panjang untuk menikmati nikmatmu seperti saat inipun kami masih mamapu merasakan nikmatmu dalam ujian ini. Amien.
Dua kata itu terus menggelayut di pikiranku.
BAgaimana tidak, Papa masih lemah.
walau makan dan minumnya banyak tapi demam belum turun dan masih pucat.
DB hari keenamSetelah Kamis (hari kedua demam) periksa hanya diberi vitamin dan sabtu di suruh periksa lagi dan hasil tes darahnya menyatakan bahwa trombosit papa cuma 6000 ato 60000 aq lupa. Yang ku ingat hanya omelan dokternya yang menurutku kurang "sopan" menanggapi keengganan PApa untuk opname.
Suami anda harus opname. Demam Berdarah itu masalah rawan. Saya sebagai dokter tidak mau disalahkan dan dituntut karena memulangkan pasien DB. Anda harus buat pernyataan.tentunya anda tidak mau jadi janda kan? aku punya pasien yang tidak mau opname juga seperti anda, besuknya dia kolaps. untungnya rumahnya dekat rumah sakit jadi bisa langsung dibawa dan ditangani. saya tidak mau mengalami persidangan berbulan-bulan karena dituduh malpraktik. kalau anda tahu ya, yang manggil itu bukan dinas melainkan kementrian langsung di jakarta sana. waduh saya gak mau repot. ayo segera tandatangan kalau tidak mau opname. duwe askes kok gak mau opname.
Dan masih banyak lagi ungkapan yang tidak bisa kutuliskan di sini.
YAng jelas efek omelan itu cukup membuatku gerah.
Bukan karena sakit papa tetapi lebih pada sikap dokter itu. sangat disayangkan tidak mampu menjaga perasaan pasien dan keluarga. Saya rasa ada intonasi dan pilihan kata lain yang lebih baik dalam menyampaikan keadaan paling buruk sekalipun kepada pasien.
Bisakah dokter itu berpikir terbalik seandainya dia pasien ??????????
Ya Allah aku hanya berharap Engkau akan selalu dan masih memberi kami semua panjang umur, kebahagiaan dan kesempatan yang panjang untuk menikmati nikmatmu seperti saat inipun kami masih mamapu merasakan nikmatmu dalam ujian ini. Amien.
Selasa, 05 Oktober 2010
Kemaren akhirnya aku jadi juga nonton Sang Pencerah.
Kecelakaan memang. Kami tidak menjadwalkannya.
Ketika rencana belanja Diaper Si Dede dibelokkan Papa ke Bioskop aku mulai manyun dan lama-lama ngedumel dikit-dikit.
Saat itu jam sudah pukul 16.30, kalau kami nonton berarti akan berakhir 2 jam kemudian.
Pikiranku langsung berkelana membayangkan malam-malam yang lalu naik motor kemalaman pulang dari belanja diaper juga (belanjanya satu tapi cuci matanya seharian, he he) sambil gendong Dede yang sudah 10 kilo lebih banyak dari Matos ke rumah yang lokasinya dekat Sengkaling. aduhhhhh???!!!!!!!??????!!
Bayangkan saja 30 sampai 45 menit loh.
But Everything i'm Fine coz of him, Dede.
Dia sangat anggun. MAsih seperti saat dia umur 1 bulan.
Ehm maksudku ketika nonton hingga selesai dia anteng. tidak kemana-mana dan tidak rewel.
Hanya sesekali saja teriak-teriak menggemparkan suasana khidmat di adegan mellow.
ups, sorry guys.
Berdua dengan Papa lomba makan snack lalu minum susu, minta jus papa dan akhirnya bosan hingga dia bercilukba ria dengan penonton di bangku depanku.
Tak cukup terobati dengan itu diapun naik turun kursi, berhaha huhu dengan anak kecil 4 tahunan dibelakang kami yang kebetulan dari awal menggoda dia. Jadilah obrolan bayi ini menambah warna di bioskop. sebelum akhirnya dia narik kain gendongan di kasihkan ke saya dan dia menyandarkan tubuhnya dipelukku.
Film selesai tapi belanja baru dimulai.
Dede tetap nyenyak di troli penuh tumpukan belanjaan. kesian tapi lucu.
Kecelakaan memang. Kami tidak menjadwalkannya.
Ketika rencana belanja Diaper Si Dede dibelokkan Papa ke Bioskop aku mulai manyun dan lama-lama ngedumel dikit-dikit.
Saat itu jam sudah pukul 16.30, kalau kami nonton berarti akan berakhir 2 jam kemudian.
Pikiranku langsung berkelana membayangkan malam-malam yang lalu naik motor kemalaman pulang dari belanja diaper juga (belanjanya satu tapi cuci matanya seharian, he he) sambil gendong Dede yang sudah 10 kilo lebih banyak dari Matos ke rumah yang lokasinya dekat Sengkaling. aduhhhhh???!!!!!!!??????!!
Bayangkan saja 30 sampai 45 menit loh.
But Everything i'm Fine coz of him, Dede.
Dia sangat anggun. MAsih seperti saat dia umur 1 bulan.
Ehm maksudku ketika nonton hingga selesai dia anteng. tidak kemana-mana dan tidak rewel.
Hanya sesekali saja teriak-teriak menggemparkan suasana khidmat di adegan mellow.
ups, sorry guys.
Berdua dengan Papa lomba makan snack lalu minum susu, minta jus papa dan akhirnya bosan hingga dia bercilukba ria dengan penonton di bangku depanku.
Tak cukup terobati dengan itu diapun naik turun kursi, berhaha huhu dengan anak kecil 4 tahunan dibelakang kami yang kebetulan dari awal menggoda dia. Jadilah obrolan bayi ini menambah warna di bioskop. sebelum akhirnya dia narik kain gendongan di kasihkan ke saya dan dia menyandarkan tubuhnya dipelukku.
dan gemintangpun menari membawanya ke alam mimpi
Film selesai tapi belanja baru dimulai.
Dede tetap nyenyak di troli penuh tumpukan belanjaan. kesian tapi lucu.
Rabu, 22 September 2010
Bagi Yang Gemar Tahfidzul Qur'an
BAru saja membaca studi alquran yang diampu M. Quraish Shihab, menemukan informasi tentang pendaftaran program tahfidz Quran.
Ingin sekali mengikuti program ini tetapi ternyata hanya untuk santri pesantren.
Bagi pembaca yang memenuhi kriteria itu dan berminat silahkan mendaftar karena pendaftaran akan ditutup pada 30 September 2010 ini.
untuk info lengkapnya silahkan buka di sini langsung.
selamat mencoba.
Ingin sekali mengikuti program ini tetapi ternyata hanya untuk santri pesantren.
Bagi pembaca yang memenuhi kriteria itu dan berminat silahkan mendaftar karena pendaftaran akan ditutup pada 30 September 2010 ini.
untuk info lengkapnya silahkan buka di sini langsung.
selamat mencoba.
Sabtu, 04 September 2010
Mentolo (baca: tega)
Saat ini aku sedang di tempat kerja.
Suasana liburan sudah terasa.
Sepi dan malas-malasan apalagi memang sedang tidak ada pekerjaan berarti kecuali rutinitas.
pumpung sepi aku duduk saja bersantai-santai di mejaku sambil mengutak atik komputer.
Seorang teman lama datang menghampiriku.
Surprise! Dia sudah berbadan dua lagi.
Selamat! Itu adalah kata pertama yang kuucapkan setelah dia menyapaku duluan sambil menunjukkan perutnya yang mulai membuncit.
Aku tertohok ketika dalam perbincangan kami selanjutnya dia mengatakan bahwa betapa mentolonya (baca: teganya) aku meninggalkan anakkudi penitipan bayi.
dia mulai memberiku petuah-petuah yang aku sendiri sudah aku hafal sendiri dari beberapa tulisan.
masa golden age itu mother touchlah yang lebih berarti. kamu kok tega sih memisahkan anak dari ibunya. resikonya besar lho nanti.
aku tertohok.
seolah terdakwa yang dijatuhi vonis berat aku merasa sedih dan jantungku serasa berhenti berdegup atau justru berdegup lebih kencang? aku gundah.
aku mulai ngawur memberi komentar yang justru menambah berat hukumanku.
golden age, mother touch dan perhatian itu setelah ASI eksklusif kan gak harus 24 jam full
Bodoh!
Sungguh komentar yang bodoh!
ha?!?! gak perlu 24 jam? kan ibulah penentu kejiwaan dan masa depan anaknya. everything just mother bukan sembarang perempuan. baby sitter di penitipan sebaik apapun dan seperhatian apapun tak bisa mengalahkan sayang ibu dan betapa amannya anak dekat dengan ibunya.
Aku mulai semakin menyadari kebodohanku yang menikam.
yah yang jelas aku melakukan tidak sembarangan nitip lah. semua keputusan sudah dipikir plus minusnya. dan aku sudah pikirkan itu masak-masak. doanya saja. semoga kamu sukses menjadi madrasah (baca: sekolah) buat anakmu kelak di masa golden age.
Mungkin, dengan melihat kebodohan itu akhirnya dia berlalu setelah menutup khutbahnya dengan doa
semoga tidak terjadi apa-apa atas pilihanmu ini.
Dan akupun hanya diam.
menatapnya hingga tak terlihat lagi oleh pandanganku.
Point di hati: ADalah sebuah pilihan berat ketika memutuskan untuk bekerja di luar sedangkan kau mempunyai anak kecil. Pasti akan melalui sebuah debat panjang yang melelahkan tak berkesudahan dengan hatimu sendiri. dan kaupun mencoba untuk kuat dengan bertopang seribu harapan indah untuk masa depan. Apakah masih perlu di vonis? apakah kepulan dapur itu tergantung orang lain?????????
Suasana liburan sudah terasa.
Sepi dan malas-malasan apalagi memang sedang tidak ada pekerjaan berarti kecuali rutinitas.
pumpung sepi aku duduk saja bersantai-santai di mejaku sambil mengutak atik komputer.
Seorang teman lama datang menghampiriku.
Surprise! Dia sudah berbadan dua lagi.
Selamat! Itu adalah kata pertama yang kuucapkan setelah dia menyapaku duluan sambil menunjukkan perutnya yang mulai membuncit.
Aku tertohok ketika dalam perbincangan kami selanjutnya dia mengatakan bahwa betapa mentolonya (baca: teganya) aku meninggalkan anakkudi penitipan bayi.
dia mulai memberiku petuah-petuah yang aku sendiri sudah aku hafal sendiri dari beberapa tulisan.
masa golden age itu mother touchlah yang lebih berarti. kamu kok tega sih memisahkan anak dari ibunya. resikonya besar lho nanti.
aku tertohok.
seolah terdakwa yang dijatuhi vonis berat aku merasa sedih dan jantungku serasa berhenti berdegup atau justru berdegup lebih kencang? aku gundah.
aku mulai ngawur memberi komentar yang justru menambah berat hukumanku.
golden age, mother touch dan perhatian itu setelah ASI eksklusif kan gak harus 24 jam full
Bodoh!
Sungguh komentar yang bodoh!
ha?!?! gak perlu 24 jam? kan ibulah penentu kejiwaan dan masa depan anaknya. everything just mother bukan sembarang perempuan. baby sitter di penitipan sebaik apapun dan seperhatian apapun tak bisa mengalahkan sayang ibu dan betapa amannya anak dekat dengan ibunya.
Aku mulai semakin menyadari kebodohanku yang menikam.
yah yang jelas aku melakukan tidak sembarangan nitip lah. semua keputusan sudah dipikir plus minusnya. dan aku sudah pikirkan itu masak-masak. doanya saja. semoga kamu sukses menjadi madrasah (baca: sekolah) buat anakmu kelak di masa golden age.
Mungkin, dengan melihat kebodohan itu akhirnya dia berlalu setelah menutup khutbahnya dengan doa
semoga tidak terjadi apa-apa atas pilihanmu ini.
Dan akupun hanya diam.
menatapnya hingga tak terlihat lagi oleh pandanganku.
Point di hati: ADalah sebuah pilihan berat ketika memutuskan untuk bekerja di luar sedangkan kau mempunyai anak kecil. Pasti akan melalui sebuah debat panjang yang melelahkan tak berkesudahan dengan hatimu sendiri. dan kaupun mencoba untuk kuat dengan bertopang seribu harapan indah untuk masa depan. Apakah masih perlu di vonis? apakah kepulan dapur itu tergantung orang lain?????????
Langganan:
Postingan (Atom)