Selasa, 05 Oktober 2010

Kemaren akhirnya aku jadi juga nonton Sang Pencerah.
Kecelakaan memang. Kami tidak menjadwalkannya.

Ketika rencana belanja Diaper Si Dede dibelokkan Papa ke Bioskop aku mulai manyun dan lama-lama ngedumel dikit-dikit.
Saat itu jam sudah pukul 16.30, kalau kami nonton berarti akan berakhir 2 jam kemudian.

Pikiranku langsung berkelana membayangkan malam-malam yang lalu naik motor kemalaman pulang dari belanja diaper juga (belanjanya satu tapi cuci matanya seharian, he he) sambil gendong Dede yang sudah 10 kilo lebih banyak dari Matos ke rumah yang lokasinya dekat Sengkaling. aduhhhhh???!!!!!!!??????!!
Bayangkan saja 30 sampai 45 menit loh.

But Everything i'm Fine coz of him, Dede.
Dia sangat anggun. MAsih seperti saat dia umur 1 bulan.
Ehm maksudku ketika nonton hingga selesai dia anteng. tidak kemana-mana dan tidak rewel.
Hanya sesekali saja teriak-teriak menggemparkan suasana khidmat di adegan mellow.
ups, sorry guys.

Berdua dengan Papa lomba makan snack lalu minum susu, minta jus papa dan akhirnya bosan hingga dia bercilukba ria dengan penonton di bangku depanku.
Tak cukup terobati dengan itu diapun naik turun kursi, berhaha huhu dengan anak kecil 4 tahunan dibelakang kami yang kebetulan dari awal menggoda dia. Jadilah obrolan bayi ini menambah warna di bioskop. sebelum akhirnya dia narik kain gendongan di kasihkan ke saya dan dia menyandarkan tubuhnya dipelukku.

dan gemintangpun menari membawanya ke alam mimpi

Film selesai tapi belanja baru dimulai.
Dede tetap nyenyak di troli penuh tumpukan belanjaan. kesian tapi lucu.

Rabu, 22 September 2010

Bagi Yang Gemar Tahfidzul Qur'an

BAru saja membaca studi alquran yang diampu M. Quraish Shihab, menemukan informasi tentang pendaftaran program tahfidz Quran.
Ingin sekali mengikuti program ini tetapi ternyata hanya untuk santri pesantren.
Bagi pembaca yang memenuhi kriteria itu dan berminat silahkan mendaftar karena pendaftaran akan ditutup pada 30 September 2010 ini.
untuk info lengkapnya silahkan buka di sini langsung.

selamat mencoba.

Sabtu, 04 September 2010

Mentolo (baca: tega)

Saat ini aku sedang di tempat kerja.
Suasana liburan sudah terasa.
Sepi dan malas-malasan apalagi memang sedang tidak ada pekerjaan berarti kecuali rutinitas.
pumpung sepi aku duduk saja bersantai-santai di mejaku sambil mengutak atik komputer.
Seorang teman lama datang menghampiriku.
Surprise! Dia sudah berbadan dua lagi.
Selamat! Itu adalah kata pertama yang kuucapkan setelah dia menyapaku duluan sambil menunjukkan perutnya yang mulai membuncit.
Aku tertohok ketika dalam perbincangan kami selanjutnya dia mengatakan bahwa betapa mentolonya (baca: teganya) aku meninggalkan anakkudi penitipan bayi.
dia mulai memberiku petuah-petuah yang aku sendiri sudah aku hafal sendiri dari beberapa tulisan.

masa golden age itu mother touchlah yang lebih berarti. kamu kok tega sih memisahkan anak dari ibunya. resikonya besar lho nanti. 

aku tertohok.

seolah terdakwa yang dijatuhi vonis berat aku merasa sedih dan jantungku serasa berhenti berdegup atau justru berdegup lebih kencang? aku gundah.
aku mulai ngawur memberi komentar yang justru menambah berat hukumanku.

golden age, mother touch dan perhatian itu setelah ASI eksklusif kan gak harus 24 jam full

Bodoh!
Sungguh komentar yang bodoh!

ha?!?! gak perlu 24 jam? kan ibulah penentu kejiwaan dan masa depan anaknya. everything just mother bukan sembarang perempuan. baby sitter di penitipan sebaik apapun dan seperhatian apapun tak bisa mengalahkan sayang ibu dan betapa amannya anak dekat dengan ibunya.

Aku mulai semakin menyadari kebodohanku yang menikam.

yah yang jelas aku melakukan tidak sembarangan nitip lah. semua keputusan sudah dipikir plus minusnya. dan aku sudah pikirkan itu masak-masak. doanya saja. semoga kamu sukses menjadi madrasah (baca: sekolah) buat anakmu kelak di masa golden age.


Mungkin, dengan melihat kebodohan itu akhirnya dia berlalu  setelah menutup khutbahnya dengan doa 

semoga tidak terjadi apa-apa atas pilihanmu ini.

Dan akupun hanya diam.
menatapnya hingga tak terlihat lagi oleh pandanganku.



Point di hati: ADalah sebuah pilihan berat ketika memutuskan untuk bekerja di luar sedangkan kau mempunyai anak kecil. Pasti akan melalui sebuah debat panjang yang melelahkan tak berkesudahan dengan hatimu sendiri. dan kaupun mencoba untuk kuat dengan bertopang seribu harapan indah untuk masa depan. Apakah masih perlu di vonis? apakah kepulan dapur itu tergantung orang lain?????????

Kamis, 26 Agustus 2010

Om Lamin

Sewaktu SD dulu, aku sering ketakutan ketika melihat sesosok laki-laki dengan mata hampir lengket tak bisa melek itu datang ke rumah.
Bapak saya bilang jangan takut, dia orang baik, suka memijat bapak kalau bapak capek.
Tapi tetap saja aku  masih ketakutan karena nampak seram dalam penglihatanku sebagai gadis kecil walaupun bapak sudah bilang bahwa itu namanya Om Lamin.

Ketika Aku SMP, aku mulai bisa menerima kehadirannya. akupun bersedia menghidangkan teh dan kue serta meletakkannya di meja terdekat. Bapak nantinya yang membantunya mengambil.
banyak hal dia bicarakan. aku menganggapnya sebagai strategi pemasaran agar pelanggan puas.

namun, setelah aku SMA, aku mulai memahami dari sudut yang lain.
aku merasa bahwa sikap supel dan "cerewetnya" itu adalah sebuah pembuktian diri bahwa dia adalah tunanetra yang punya prinsip, punya pengalaman dan punya kecerdasan serta ilmu yang bisa disejajarkan dengan orang bermata normal.

Pernah suatu kali ketika aku liburan sekolah dan hanya dirumah menemani ibu mendengar radio, aku mendapat informasi baru. Sang Penyiar bersuara merdu itu adalah Si Tukang Pijat Tuna Netra yang kutakuti sewaktu SD dulu.
WAlau radio itu adalah radio amatir desa yang frekuensinya hanya bisa terderngar di satu kampungku saja, aku tetep saja salut sama dia.
bagaimana tidak, dia itu menurut cerita warga, menggunakan alat sederhana buatannya sendiri. entah kebenarannya, aku tidak pernah kroscek.
tapi aku salut dan terlecut.
terlecut karena aku tidak sekreatif dia.

Setelah itu, aku berani mengobrol dengan dia.
membicarakan banyak hal, apa saja yang dia utarakan.

setiap lebaran tiba, dia selalu menyempatkan diri datang ke rumah.

ke pak kyai yo kedah sowan rumiyin, pun sampek keliwatan

begitu kalimat yang selalu ku dengar ketika dia datang lebaran. Kyai?? bapakku seorang guru agama di SD. itu saja.

biasane diparingi maem lo pak kyai
atau
kulo dereng disangoni pak kyai

 begitu kalimat lain yang ku hafal ketika  dia sudah lama duduk dan belum disilahkan makan dan kalimat pamungkasnya ketika sudah pamit tapi amplop belum diselipkan dikantongnya.
dan setelah itu dia kan bilang, "nanti malam saya akan kesisi mijit pak kyai. gratis!"

Semenjak aku menikah dengan Papa, setiap berkunjung ke rumah bapak, papa selalu ketagihan pijatan om lamin.
Menyadari bahwa aku dan papa tinggal di Malang, om lamin ingin sekali di carikan al quran braille yang konon adanya hanya di malang.
setelah 3 tahun lamanya, tak jua ku dapatkan info quran braille.
dia tidak menagih, tapi terus mengatakan impiannya.
 alhamdulillah kemaren setelah Ngaskus  aku mendapatkan info tentang al qur an braille dan sudah ku kroscek di komunitas sahabat mata.

Aku berusaha untuk mendaftar dan menunggu hasilnya.
doakan semoga Om lamin mendapat bantuan Al Quran Braille ini

Senin, 23 Agustus 2010

Puasa dan Lebaran

Puasa dan Lebaran.
Intinya, kalau puasa itu ya memperbanyak ibadah dan fokus untuk berbuat lebih baik sebagai bekal menuju 11 bulan berikutnya ke ramadhan lagi. Ramadhan harusnya tidak meributkan masakan-masakan istimewa, pakaian baru dan kue-kue lebaran serta berburu tiket.
Sedangkan Lebaran, ya merayakan suka cita setelah kembali fitri diuji selama ramadhan. Siap mengamalkan hasil diklat 1 bulan ramadhan.
Aku tidak ingin diributkan dan direpotkan oleh urusan itu. aku hanya ingin semua berjalan normal seperti biasa untuk hal selain ibadah.

Adalah boleh - boleh saja sesekali mengistimekan masakan
Adalah boleh-boleh saja membeli baju
adalah boleh-boleh saja menyiapkan kue dan berburu tiket
tapi...
bisakah porsi itu tidak diutamakan???????????
bisakah ini menjadi "seperti biasanya" di saat sekitar menuntut itu????????????
bisakah mudik diabaikan disaat kesempatan untuk bertemu keluarga hanyalah di moment ini??????????