Selasa, 19 April 2011

Cuci Otak

Aksi Penipuan berkedok agama mulai menyeruak lagi.

Di televisi beberapa hari lalu mengabarkan tentang seorang ibu muda di Jakarta yang tiba-tiba menghilang dan begitu di temukan di daerah Bandung dalam keadaan bercadar dan seperti hilang ingatan. Dia tidak mampu mengenali keluarga, suami bahkan anaknya sendiri. Sebagaimana diberitakan, dia merupakan korban hipnotis dan dikaitkan dengan kelompok KW9 NII.

KW9 NII bertugas merekrut dan membaiat seseorang untuk masuk pada kelompoknya dengan cara .
dari link ini saya ketahui bahwa KW9 adalah  program tandingan NII, yang sengaja dimunculkan pemerintah. Bagi orang NII, KW9 adalah NII palsu yang kerjanya merekrut orang dan memberi ajaran yang tidak sesuai dengan NII asli. Para anggotanya di cuci otaknya sedemikian rupa hingga pada taraf tertentu akan menurut dan dijadikan mesin pencetak keuntungan. Bisa jadi anggota yang sudah dicuci otak akan dengan rela menyetor sejumlah uang dan harta yang dimulikinya.


Astaghfirullahal adzim.


Lain di Jakarta Lain pula di Malang. Kalau di Jakarta menyerang pegawai, di Malang mereka menyasar mahasiswa baru, buktinya yang terbaiat angkatan 2010 semua. 11 mahasiswa di cuci otak dan bahkan beberapa telah menghilang.
Walaupun masih dugaan, tapi melihat modusnya sama dengan kasus di atas. Di cuci otak.


Jadi teringat jaman kuliah dulu. Teman sefakultas saya pernah menangis dan mengadu ke saya kalau dia sedang dikejar-kejar dan diteror orang lantaran dia tidak mau membayar sejumlah uang. Sebelumnya temenku ini rajin di datengin dan diajak diskusi keagamaan. Kadang-kadang si perekrut itu muncul dimanapun teman saya berada, serasa dibuntuti. Terus "disayang-sayang" temen saya itu. Di bantu dan pokoknya di baik-baiki.
Selanjutnya di kasih undangan seminar kepemimpinan di Jakarta dengan uang daftar seminar sebesar 500 ribu. Kebetulan temen saya ini adalah aktifis yang lantang, cerdas dan tegas terus berprestasi secara akademik. Dia juga aktifis perempuan yang cukup lincah apalagi kalau soal persamaan gender. Jadilah dia tertarik dengan tema yang di tawarkan. Dan berangkatlah dia ke Jakarta 1 minggu.
Di sana ternyata di masukkan ke suatu ruang remang-remang dan di baiat. Setelah itu kembali ke Malang dengan setumpuk tugas dari sana.
Untung temen saya punya cukup cadangan akal sehat dan keberanian melawan hal konyol ini, sehingga dia akhirnya kembali pada kehidupan normalnya. Dia tidak sampai merekrut orang karena dia buru-buru sadar dan mencari perlindungan.

Yah semoga kasus ini bisa segera teratasi dan diketahui "sarangnya" sehingga bisa dibasmi tuntas.
Marilah kita membentengi diri kita dengan iman dan ilmu sehingga bisa seimbang dalam hidup dan tidak mudah dipengaruhi.



 Sumber:

 http://www.detiknews.com/read/2011/04/11/115016/1613233/10/al-chaidar-duga-lian-dicuci-otak-kw9-nii

http://www.malang-post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=29039:mahasiswa-umm-dicuci-otak&catid=46:tribunngalam&Itemid=71

Senin, 18 April 2011

Nama Novelnya "Pelangi Di Atas Gelagahwangi"

Apa teman-teman kenal dengan S. Tidjab?
Setidaknya pernah mendengar namanya, mungkin?
Atau justru mengenal sangat dekat dan menjadi penggemarnya?

Atau ada yang ingat di masa kecil dulu bahwa radio sangat digemari.
Saban hari orang mendengar radio.
"Sinetron" Radio yang berupa penuturan cerita tanpa gambar, ya iyalah namanya juga radio ya tidak bergambar.Atau yang sering disebut sandiwara radio. Pernah dengar???

Tutur tinular, Kaca Benggala, Mahkota Mayangkara.
Itu adalah tiga Sandiwara radio yang paling laris dan paling favorit.
Apakah ada memori tentang ini????
Saya Punya.

Ketika 1 minggu yang lalu saya menemukan sebuah novel di salah satu rak perpustakaan, ada nama S. Tidjab di sana. Walaupun belum pasti siapa dia sebenarnya, saya langsung mengambil dan meminjamnya.
Setelah ku amati tulisan-tulisan yang tersemat di sampul depan dan belakang aku langsung sadar kalau ini benar S. Tidjab yang di Radio itu.

saya serasa kembali di jaman kecil dulu ketika sore hari bersama ibu duduk di ruang depan sambil khusyuk mendengar untaian kisah-kisah yang ditulis oleh beliau. Saya kembali merasakan dibawa berpetualang ke hutan, beradu ajian dan ilmu kanuragan, mendengar derikan kuda, dll.

Atau di pagi hari menjelang ibu ke pasar, beliau menyempatkan mendengar Tutur Tinular dulu.
Sayapun menemaninya.
Betapa radio sangat mengasikkan.

Aku menjadi rindu masa-masa itu. Masa -masa dimana imaji-ku berkelana liar seiring prolog sang sutradara dan dialog sang pemain serta suara latar yang mengiringi.
 Suasana yang masih saya rindukan di umur 26 ini. Ah...

Baiklah, sebetulnya aku ingin membicarakan Novel Pelangi di Atas Gelagahwangi karya S. Tidjab yang ku pinjam di perpustakaan.
Novel ini di angkat dari Naskah Sandiwara RAdio beliau yang di siarkan di 100 radio di seluruh Indonesia pada 2007 dan diterbitkan dalam novel di 2008.

Setelah membaca novel ini saya benar-benar setuju dengan pendapat Ferry Fadli dalam buku ini bahwa "S. Tidjab berhasil memadukan tokoh fiksi dan sejarah dengan sangat sempurna". Saya sampai hanyut terbawa dalam perpaduan ini. Sungguh mengesankan.

Di mulai dari kisah ketaatan manusia pada tuhannya yang saat itu kepercayaan yang tumbuh adalah Hindu Syiwa serta kejayaan kerajaan MAjapahit lalu keruntuhannya serta penyebaran Islam yang dibumbui kisah percintaan dan pergulatan manusia dalam memperoleh hidayahNYA menjadikan novel ini patut dibaca siapa saja di semua kalangan umur.

Kalau orang saat ini meributkan film Tanda Tanya karya HAnung Bramantyo karena dianggap Pluralis, kenapa mereka tidak belajar dulu dari novel ini dan perilaku para Sunan yang diceritakan didalamnya. dan mungkin Hanung sendiri juga perlu membaca novel ini jika memang belum baca.

Bukannya membenarkan film Hanung karena saya sendiri juga belum menonton filmnya, hanya saja sejauh yang saya ikuti perkembangannya di internet dan koran yang dipermasalahkan adalah tagline film yang kurang lebih berbunyi "masih perlukah kita berbeda?" dan penggunaan seragam salah saru kelompok.
Yah kalau seandainya memang ada unsur di film itu yang tidak sesuai aturan mari dibicarakan dengan baik-baik dan bijaksana.

Di halaman awal Novel saya tersentuh kalimat dari penulis yang berbunyi " untuk saudara-saudaraku kaum muslim yang ingin memahami lebih dalam makna ungkapan bismillahirrahmanirrahiim". Entah apa maksud sebenarnya si Penulis, tetapi yang saya tangkap bahwa segala hal yang kita niatkan dengan bismillah janganlah pernah berputus asa akan nikmat-NYA karena rahman dan rahimmNYA akan selalu terlimpah pada hambanya yang taat. Ketika kita berniat dengan bismillah maka selalu gunakan cinta dan kasih sayang dalam meraihnya sebagaimana rahman dan rahimNYA tercurah untuk kita semua.

So, gak banyak nulis lagi. Saya hanya mau bilang novel ini benar-benar mengajarkan pada saya pribadi akan pentingnya sebuah keterbukaan pikiran dan wawasan yang berdasar ilmu dan pemahaman bukan nafsu.




manusia hidup tanpa kepemilikan dan kebiasaan. Pada dasarnya manusia tidak mempunyai apa-apa dan tidak bisa apa-apa. semua benda atau wujud duniawi yang di aku sebagai miliknya adalah barang titipan. pada hakikatnya, manusia tidak mempunyai apa-apa selain kekosongan" (Resi Wiyasa dalam Pelangi di Atas Gelagahwangi)



Sabtu, 09 April 2011

Evaluasi dan Harapan

Mendengar si Dede semakin nyerocos membuat hati serasa melayang terus.
Dada dipenuhi rasa bahagia tak terkira.
Apalagi setelah mendengar dari teman, saudara, guru Dede dan orang yang kebetulan ketemu selalu mengatakan bahwa si Dede adalah anak cerdas dan perkembangannya luar biasa.
Awalnya saya sih tidak ambil pusing dengan komentar itu karena saya selalu dan masih berpegang pada sebuah pernyataan di sebuah rubrik anak yang isinya, "anak membawa sisi kecerdasannya masing dan adapun perkembangan yang ditunjukkan akans elalu tidak sama 1 dengan lainnya. jadi tidak perlu membanding-bandingkan karena akan berakibat kurang baik."

Melihat Grafik perkembangan di kartu KIA dan grafik-grafik perkembangan anak baik di internet maupun majalah, memang saya akui bahwa si Dede pada beberapa jenis keterampilan dapat dicapai dengan cepat Terutama motoriknya, gerakan tangan dan kaki. Jika seharusnya ada ketrampilan yang umumnya dikuasai anak usia 9 bulan maka si dede sudah dapat melakukannya di usia 7 dan 8 bulan. begitu juga sekarang, jika ada keterampilan yang harusnya dikuasai pada usia 20 bulan maka pada  usia 18 dia sudah mampu. Dari kemandirian dan jiwa sosialnya juga melebihi teman seusianya.

Senang, iya senang sih. Tapi lantas tidak membuat saya bereuforia dengan begitu mengagungkan anak saya dan menganakemaskannya. Justru dengan pencapaian Si Dede yang lumayan bagus dalam waktu yang cepat melebihi teman sebayanya malah membuat saya waspada.
Waspada dalam artian bagaimana menyiapkan anak agar tidak berkurang kecerdasan dan kekreatifannya atau bahkan mati. Waspada dalam arti ingin terus mendampingi dan mengajari dengan lebih baik karena telah diberi anugrah "murid" yang super duper cerdas (he he he he). Waspada dalam arti tidak terlena pujian sehingga mengabaikan kekurangan atau kesalahannya.

Mungkin di luar sana, di luar lingkungan keseharian kami, banyak anak indonesia yang jauh lebih cerdas dan terampil. Dari situ aku hanya berharap bisa menyerap ilmu mereka, ilmu para pengajarnya, ilmu para bundanya dan ilmu alamiah dari si anak yang bisa dipelajari untuk mendukung optimalisasi perkembangan bayiku.

I Love U De
Bunda Ingin Mikael dapat yang terbaik sehingga menjadi generasi yang Cerdas Dzikir dan Pikirnya.
Jadilah Manusia yang beriman dan bertanggungjawab

Jumat, 01 April 2011

Bisakah ini di sebut Child Abuse atau bullying?

Kamis, 31 Maret 2001.

Pukul 16.00 wib
Baru setengah jam di rumah setelah ngantor dan Si Dede sekolah.
Aku dan Dede sedang asyik nonton Thomas & His Friends ketika tiba-tiba:
Dede:  uuuu....aaaa...aaakiit....(menangis kencang)
Aku:  Kenapa? apanya yang sakit De?
Dede: Aaakit Ke-na.. L*v*n sama a-z*ng (2 teman di sekolahnya, yang terakhir adalah az*m karena belum bisa mengucapkan akhiran m jadi ng)
Aku: Kok kena L*v*n sama Az*m?Lo tadi di sekolah main apa sama mereka? (sambil periksa sekujur badan barangkali ada yang luka, ternyata ada goresan dan lebam di sikut kanan)

Pukul 17.30 wib
Papa datang dengan temannya.
Dede : pa... Akiit. Dede akit
Papa : kenapa? Mana yang sakit?
Dede : (menunjukkan lengan kanannya) Kena L*v*n sa-ma Az*m
papa : Sini papa Obatin (sambil membubuhkan betadin)
Dede : (duduk sambil niupin lukanya)

Pukul. 18.30 wib
Biasanya sudah tidur. Hari ini jam segini masih terjaga.
Agak rewel dan caper abizz

Pukul 19.30 wib
Di depan TV, tiduran sama aku sambil nonton.
Susu sudah mulai di kenyot, baru sedikit botol di taruh.
Guling-guling bentar lalu terlelap sudah


Pukul Setengah 11 malam.
Terbangun. Diikuti tangisan setelahnya, "Aaaa akit bunda...aaakiiit... kena ...(sebut nama teman)"
Di puk-puk pantatnya sambil diberi dot akhirnya bobo lagi

Pukul 00.00 wib menuju tanggal 1 April 2011
Aku amati dari terakhir bangun tidurnya jadi tidak nyenyak.
Guling sana guling sini.
mengigau. a-kit. bun-da bun-da. Sambil meringik-ringik.
Aku sentuh dahinya, Ya Allah! Demam tapi tidak begitu panas.
batuk semakin sering. Aku jadi curiga bahwa dia akan muntah.

Pukul 01.20 wib
bun-da....bun-da... (dengan suara serak seperti menahan sakit)
uhuk uhuk uhuk hoooeeeekkkkkkk hooooeeeeekkk (batuk disertai muntah)

Setelah selesai dengan "ritual"nya, kami pindah ke kamar sebelah karena kondisi ranjang di kamar yang tidak mungkin untuk dipakai lagi. tapi si Dede menolak. Memilih Di depan TV. Masih terus menangis.
Aku: Bajunya dibuka ya? ganti pampers, mau?
Dede : menganggukkan kepala dengan tangisan masih terdengar
Aku: melepaskan baju dan celananya. pakai pampers yang baru ya, yang ini dibuang, misi de...
Dede : menangis kencang. (mau ... mau...mau.. sambil geleng kepala yang artinya tidak mau.)
Aku : lo kok gak mau
papa : ayo pake dulu nanti kalao gak pake ngompol disini lo. kalo ngompol kasurnya basah bobo dimana, kan yang dikamar udah basah juga kena muntah. ayo pake...
Dede : terus geleng kepala sambil menangis lebih keras. andi... andi... De-de andi... hiii hiii (sambil nunjuk kearah belakang
Aku : apa sih?
PApa : Mandi?
Dede : iya (dengan muka bahagia dijawab tegas dengan tangisan yang terhenti seketika)
Aku : dingin de. nanti sakit lo
papa : sini papa lap aja pake handuk
Dede : ( tetep nangis minta mandi)

Akhirnya daripada tambah kenceng nangisnya kami bawa si Dede ke kamar mandi. Aku ambilkan air segayung ketika papa sedang merebus air di dapur.
You know What? Si dede langsung membersihkan dirinya sendiri. mengambil sedikit air dari gayung dengan tangan mungilnya lalau diusapkan ke muka, lalu dia bersihkan hidungnya, kemudian lengan dan kakinya. terakhir mintat sabun dan di siram air.
hadeuuuhhh kan air panasnya belum jadi de?????
menangsi kencang lagi ketika tidak boleh nyiram.
Akhirnya air papa selesai dan jadilah air hangat itu tersedia di dalam baknya. lalu dia mengulangi proses mandi itu sekali lagi lalu minta handuk dan akhirnya sukses pake pampers dan baju tanpa protes.
Ya Allah terimakasih telah Kau berikan hidayahMu pada anakku.
berilah dia kesehatan dan kebahagiaan lahir batin
jadikan dia JundiMu yang soleh, cerdas fikir dan dzikirnya.
Amin.


Hampir jam 3 pagi
Masih nonton sambil mimik susu.
Aku sudah tidak kuat nemenin, begitu juga Papa. dan kami terlelap begitu saja.
bangun- bangun sudah Adzan subuh si dede bobo di sebelah sambil masih ngemut dotnya.

Pukul 08.00 wib
Setelah bangun dan minta jalan-jalan dan menangis sekali di saat Papa berangkat. Si dede tidak menangis lagi hingga berangkat sekolah dan setibanya di sekolah. Alhamdulilah.
Wawancara sama gurunya dengan menceritakan rangkaian di atas, jawabannya selalu sama dengan pertanyaan dengan kejadian berbeda yang menimpa dede "biasa anak-anak kan begitu bu. suka rebutan, kadang gak nyambung ngomongnya jadi bertengkar. kalau jatuh kemaren dia jatuh sendiri, lari-lari langsung jatuh. lagian mikael kan anaknya aktif sekali bu"

Tidak bisakah jawaban itu lebih profesional?
Tidak bisakah mereka juga belajar dari setiap kejadian-kejadian itu?
tidakkah itu berpeluang menjadi child abuse atau bullying di sekolah?

Rabu, 23 Maret 2011

Masuk Koran

Setelah kemaren tiba-tiba di wawancara sama seorang perempuan yang ternyata wartawati Malang Post, hari ini namaku benar-benar tercantum di sana. Tapi kok kata-kataku diplintir ya??? Itu bukan di-edit tapi betul-betul dirubah sehingga menjadi kalimat baru. benar-benar baru. Oh wartawan adakah itu dalam kode etik jurnalismu????
Untuk para pembaca, berikut adalah Berita Lengkapnya!



Baby Sitter No, TPA Yes!
Selasa, 22 Maret 2011 13:43
Mencari nafkah adalah tugas dan kewajiban orang tua laki-laki (ayah). Namun di zaman yang kian dinamis dan kebutuhan yang semakin meningkat, perempuan (ibu) banyak yang ikut turun tangan untuk menambah pundi-pundi pemasukan keluarga. Kedua orang tua yang sama-sama bekerja menjadi hal yang wajar di zaman sekarang. Keputusan ini secara otomatis membuat anak ’dikorbankan’. Pengasuhan yang seharusnya di-handle sendiri oleh orang tua, minimal ibu, akhirnya dialihkan pada orang lain. Kepada kakek-nenek dan saudara terdekat, bisa juga kepada baby sitter.
Jika pengasuhan diserahkan pada kakek-nenek atau saudara, para orang tua bisa tenang. Pasalnya mereka sudah cukup mengenal karakter orang-orang terdekatnya itu. Namun jika diserahkan pada baby sitter yang tak lain adalah orang asing, kebanyakan orang tua masih meragukan. Seperti diutarakan oleh Yayuk Lisharnani.
”Mempekerjakan pengasuh anak memang sebuah solusi bagi perempuan yang bekerja seperti saya. Tetapi bukan solusi terbaik. Melihat banyaknya kasus yang melibatkan baby sitter dan beberapa pemberitaan yang terdapat di media, saya meragukan capability pengasuh anak. Selain kurang aman, pengasuh anak juga tidak memiliki pendidikan yang sesuai untuk kebutuhan anak,” terang Yayuk pada Malang Post.
Karena meragukan pengasuh anak, Yayuk pun mengambil cara lain agar buah hatinya tetap terawat meski ia dan suami tetap bekerja. Langkah yang diambil adalah menitipkan anaknya, Afiqa Fitri Layyina pada Tempat Penitipan Anak (TPA) yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Hal sama juga dilakukan Nurul Hidayah. Perempuan berusia 26 tahun ini bahkan sudah menitipkan buah hatinya, Mikael Amal Kareem sejak berusia 1,5 bulan. Di TPA yang memiliki sistem seperti sekolah anak-anak tersebut, Nurul mengaku lebih tenang menyerahkan pengasuhan anaknya.
”Kalau mempekerjakan pengasuh anak, saya harus mengajari dari nol. Tetapi ketika menitipkan di TPA, mereka sudah memiliki sistem sendiri. Tak hanya numpang makan, tidur dan main, selama di TPA, anak saya pun mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya seperti materi yang terdapat di pre-school,” terang Nurul.
Marketing Outbond Petungsewu, Heni Lestari memiliki alasan yang hampir sama kenapa ia menitipkan anaknya di TPA. Ia mengaku ketika mempekerjakan pengasuh anak, ia tidak bisa tenang. Sebab selain kemampuan dan pendidikan yang tidak memadai, pengasuh anak tidak memiliki jadwal yang pasti.
”Pengalaman saya, libur pengasuh anak tidak terjadwal dengan pasti. Kadang-kadang mereka minta libur sesukanya. Kalau pas saya sedang senggang tidak masalah, tetapi ketika sibuk dengan pekerjaan kantor, saya yang akan kelimpungan,” urai Heni. (nda/han)


Anak Lebih Disiplin dan Mandiri
Menitipkan anak di TPA sebenarnya bukan hal yang baru. Namun di Indonesia yang masih memegang budaya ketimuran yang kuat, keputusan ini dinilai kurang wajar. Banyak yang beranggapan menitipkan anak sama halnya dengan menelantarkan mereka.
Nurul mengaku, dalam keluarga besarnya, menitipkan anak di TPA sementara kedua orang tua tetap bekerja adalah fenomena baru. Bahkan tak jarang yang menilai menitipkan anak di TPA sama dengan menitipkan anak di panti asuhan. Namun hal ini tidak menghentikan langkah Nurul. Pasalnya, selama berada di TPA, anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan dari beberapa sisi, Mikael memiliki nilai tambah setelah bergabung di TPA.
”Nilai tambah yang bisa didapat oleh anak saya setelah bergabung dengan TPA adalah mereka memiliki rasa sosial yang cukup tinggi. Sebab sehari-harinya mereka bertemu dengan banyak orang. Tidak hanya seumuran, tetapi ada juga yang lebih muda dan lebih tua dari usianya,” terang Nurul.
Selain memiliki rasa sosial sejak dini, dengan mengikuti sistem pendidikan dan pengasuhan di TPA, Nurul mengaku anaknya memiliki kedisiplinan yang tinggi dan mandiri. Sebab di TPA, setiap anak diajarkan untuk tidak manja dan bisa melakukan aktivitas sehari-harinya.
”Kalau hanya diasuh satu orang (pengasuh anak), anak biasanya akan bergantung dan manja. Tetapi kalau di TPA, mereka diajarkan untuk disiplin dan mandiri meski masih kecil,” kata karyawan UMM ini.
Diasuh dengan pengasuh anak, lanjut Nurul, tidak hanya membuat si anak manja, tetapi juga masih tetap merepotkan dirinya. Sebab, ia juga harus turun tangan sendiri untuk mengecek pola pengasuhan baby sitter yang membantunya. Tetapi ketika dititipkan di TPA, Nurul cukup membaca laporan perkembangan anaknya yang tercatat dengan baik setiap harinya.
Senada dengan Nurul, Heni juga merasakan manfaat yang sama dari pengasuhan anak di bawah TPA. Mulai jadwal makan, minum susu, bermain, pelajaran, tidur, hingga toilet training ada semua. Ia tidak perlu memikirkan bagaimana tumbuh kembang buah hatinya karena sudah mendapat materi lengkap selama dititipkan.
”Tak perlu bingung-bingung mengecek satu per satu aktivitas anak selama di TPA. Semuanya sudah terjadwal. Paling hanya memeriksa kelengkapan selama anak di TPA. Misalnya saja susu, makanan ringan dan handuk untuk mandi. Selebihnya, sudah ditangani dengan baik dan terjadwal dengan sistematis,” pungkasnya. (nda/han)

Belajar Berteman Hingga Toilet Training
Salah satu TPA yang ada di Malang adalah TPA As-Sakinah Baby School Sengkaling. TPA ini berada di bawah Yayasan Aisyiyah dan berdiri sejak delapan tahun yang lalu. Selama berdiri, puluhan bahkan ratusan anak sudah mereka tangani.
Usia anak didik yang berada di bawah pengasuhan TPA As-Sakinah Baby School cukup beragam. Mulai dari usia dua-tiga bulan hingga enam tahun. Namun kebanyakan orang tua yang menitipkan anak di TPA ini sejak anaknya berusia 2-3 bulan, tepatnya setelah masa cuti sang ibu berakhir.
”Kami sendiri pernah menerima bayi yang masih berusia 40 hari. Orang tuanya sengaja menitipkan di sini karena harus mengikuti ujian S3 di bangku kuliahnya,” terang Kepala TPA As-Sakinah Baby School, Laily F Wulandari SE.
Bagi Laily, TPA merupakan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan menyerahkan pengasuhan anak pada baby sitter. Pasalnya, selama berada di TPA, anak tidak hanya diasuh seperti ibu yang mengasuh buah hatinya, tetapi juga mendapat materi pelajaran untuk menunjang pertumbuhannya.
”Aktivitas di TPA hampir mirip seperti sekolah (playgroup dan TK). Di sini, selain makan, bermain dan tidur, anak-anak juga mendapat materi pelajaran. Selain itu juga diajarkan bersosialisasi antar sesama penghuni TPA,” ujar perempuan yang akrab disapa Leli ini.
TPA As-Sakinah Baby School memiliki kegiatan yang terjadwal. Pagi hari pukul 07.00-08.00 diawali dengan penyambutan kedatangan anak didik. Namun tak jarang ada juga anak didiknya yang datang pukul 09.00 atau lebih. Sebab jam kedatangan mengikuti aktivitas orang tua masing-masing.
Setelah itu kegiatan dimulai dengan membangun suasana belajar dengan gerakan ringan seperti senam dan menyanyi. Penting bagi anak-anak memulai aktivitas dengan kegiatan seperti ini agar mood mereka terbentuk. Apalagi tak jarang di antara mereka yang ketika diantar oleh ibu atau ayahnya merengek tidak mau masuk TPA.
”Kegiatan selanjutnya belajar berteman. Ada kalanya mendongeng, terkadang belajar menyusun balok,” sambungnya.
Begitu kegiatan belajar selesai, anak didik akan diarahkan untuk minum susu dan menikmati bekal kue yang dibawa dari rumah masing-masing. Kemudian disambung dengan toilet training. Setelah itu waktu bermain dengan durasi sekitar satu jam.
“Siang harinya kegiatan dilanjutkan dengan makan siang, istirahat, mandi, kegiatan belajar lagi hingga menunggu penjemputan,” imbuh ibu satu anak ini. (nda/han)
 
Sumber : http://www.malang-post.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=62&Itemid=89